Tips Berkata Bijak

16.6.08

Perkembangan Moral

 , Oleh: Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi.


  , Jakarta, 21 Juni 2002


 , Berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan Kohlberg  pada tahun 1958, sekaligus menjadi disertasi doktornya dengan judul The Developmental of Model of Moral Think and Choice in the Years 10 to 16, seperti tertuang dalam buku Tahap-tahap Perkembangan Moral (1995), tahap-tahap perkembangan moral dapat dibagi sebagai  berikut:


 , 1. Tingkat Pra Konvensional


  , Pada tingkat ini anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan terhadap ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Akan tetapi hal ini semata ditafsirkan dari segi sebab akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran dan kebaikan). Tingkatan  ini dapat dibagi menjadi dua tahap:


 , Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan


Akibat-akibat fisik suatu perbuatan menentukan baik buruknya, tanpa menghiraukan arti dan nilai manusiawi dari akibat tersebut. Anak hanya semata-mata menghindarkan hukuman dan tunduk kepada kekuasaan tanpa mempersoalkannya. Jika ia berbuat “baik’, hal itu karena anak menilai tindakannya sebagai hal yang bernilai dalam dirinya sendiri dan bukan karena rasa hormat terhadap tatanan moral yang melandasi dan yang didukung oleh hukuman dan otoritas


Tahap 2 : Orientasi Relativis-instrumental


Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dipandang seperti hubungan di pasar (jual-beli). Terdapat elemen kewajaran tindakan yang bersifat resiprositas (timbal-balik) dan pembagian sama rata, tetapi ditafsirkan secara fisik dan pragmatis. Resiprositas ini merupakan tercermin dalam bentuk: “jika engkau menggaruk punggungku, nanti juga aku akan menggaruk punggungmu”. Jadi perbuatan baik tidaklah didasarkan karena loyalitas, terima kasih atau pun keadilan.


  , 2. Tingkat Konvensional


  , Pada tingkat ini anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok atau bangsa. Anak memandang bahwa hal tersebut bernilai bagi dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Sikapnya bukan hanya konformitas terhadap harapan pribadi dan tata tertib sosial, melainkan juga loyal (setia) terhadapnya dan secara aktif mempertahankan, mendukung dan membenarkan seluruh tata-tertib atau norma-norma tersebut serta mengidentifikasikan diri dengan orang tua atau kelompok yang terlibat di dalamnya. Tingkatan ini memiliki dua tahap :


  , Tahap 3 : Orientasi kesepakatan antara pribadi atau orientasi “anak manis”


Perilaku yang baik adalah yang menyenangkan dan membantu orang lain serta yang disetujui oleh mereka. Pada tahap ini terdapat banyak konformitas terhadap gambaran stereotip mengenai apa itu perilaku mayoritas atau “alamiah”. Perilaku sering dinilai menurut niatnya, ungkapan “dia bermaksud baik” untuk pertama kalinya menjadi penting. Orang mendapatkan persetujuan dengan menjadi “baik”.


Tahap 4 : Orientasi hukuman dan ketertiban


Terdapat orientasi  terhadap otoritas, aturan yang tetap dan penjagaan tata tertib/norma-norma sosial. Perilaku yang baik adalah semata-mata melakukan kewajiban sendiri, menghormati otoritas dan menjaga tata tertib sosial yang ada, sebagai yang bernilai dalam dirinya sendiri.


 , 3. Tingkat Pasca-Konvensional (Otonom / Berlandaskan Prinsip) 


  , Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu dan terlepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut. Ada dua tahap pada tingkat ini:


  , Tahap 5 : Orientasi kontrak sosial Legalitas


Pada umumnya tahap ini amat bernada semangat utilitarian. Perbuatan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran individual umum yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh seluruh masyarakat. Terdapat kesadaran yang jelas mengenai relativitas nilai dan pendapat pribadi sesuai dengannya. Terlepas dari apa yang telah disepakati secara konstitusional dan demokratis, hak adalah soal “nilai” dan “pendapat” pribadi. Hasilnya adalah penekanan pada sudut pandangan legal, tetapi dengan penekanan pada kemungkinan untuk mengubah hukum berdasarkan pertimbangan rasional mengenai manfaat sosial (jadi bukan membekukan hukum itu sesuai dengan tata tertib gaya seperti yang terjadi pada tahap 4). Di luar bidang hukum yang disepakati, maka berlaku persetujuan bebas atau pun kontrak. Inilah “ moralitas resmi” dari pemerintah dan perundang-undangan yang berlaku di setiap negara.


Tahap 6 : Orientasi Prinsip Etika Universal


Hak ditentukan oleh keputusan suara batin, sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri dan yang mengacu pada komprehensivitas logis, universalitas, konsistensi logis. Prinsip-prinsip ini bersifat abstrak dan etis (kaidah emas imperatif kategoris) dan mereka tidak merupakan peraturan moral konkret seperti kesepuluh Perintah Allah. Pada hakikat inilah prinsip-prinsip universal keadilan, resiprositas dan persamaan hak asasi manusia serta rasa hormat terhadap manusia sebagai pribadi individual.


  , Berdasarkan penelitian empirisnya tersebut, secara kreatif Kohlberg menggabungkan berbagai gagasan dari Dewey dan Piaget, bahkan berhasil melampaui gagasan-gegasan mereka. Dengan kata lain ia berhasil mengkoreksi gagasan Piaget mengenai tahap perkembangan moral yang dianggap terlalu sederhana.Kohlberg secara tentatif menguraikan sendiri tahap-tahap 4, 5 dan 6 yang ditambahkan pada tiga tahap awal yang telah dikembangkan oleh Piaget. Dewey pernah membagi proses perkembangan moral atas tiga tahap : tahap pramoral, tahap konvensional dan tahap otonom. Selanjutnya Piaget berhasil melukiskan dan menggolongkan seluruh pemikiran moral anak seperti kerangka pemikiran Dewey, : (1) pada tahap pramoral anak belum menyadari keterikatannya pada aturan; (1) tahap konvensional dicirikan dengan ketaatan pada kekuasaan; (3) tahap otonom bersifat terikat pada aturan yang didasarkan pada resiprositas (hubungan timbal balik). Berkat pandangan Dewey dan Piaget maka Kohlberg berhasil memperlihatkan 6 tahap pertimbangan moral anak dan orang muda seperti yang tertera di atas.


Hubungan antara tahap-tahap tersebut bersifat hirarkis, yaitu tiap tahap berikutnya berlandaskan tahap-tahap sebelumnya, yang lebih terdiferensiasi lagi dan operasi-operasinya terintegrasi dalam struktur baru. Oleh karena itu, rangkaian tahap membentuk satu urutan dari struktur yang semakin dibeda-bedakan dan diintegrasikan untuk dapat memenuhi fungsi yang sama, yakni menciptakan pertimbangan moral menjadi semakin memadai terhadap dilema moral. Tahap-tahap yang lebih rendah dilampaui dan diintegrasikan kembali oleh tahap yang lebih tinggi. Reintegrasi ini berarti bahwa pribadi yang berada pada tahap moral yang lebih tinggi, mengerti pribadi pada tahap moral yang lebih rendah. 


Selanjutnya penelitian lintas budaya yang dilakukan  di Turki, Israel, Kanada, Inggris, Malaysia, Taiwan, dan Meksiko memberikan kesan kuat bahwa urutan tahap yang tetap dan tidak dapat dibalik itu juga bersifat universal, yakni berlaku untuk semua orang dalam periode historis atau kebudayaan apa pun.


Menurut Kohlberg penelitian empirisnya memperlihatkan bahwa tidak setiap individu akan mencapai tahap tertinggi, melainkan hanya minoritas saja, yaitu hanya 5 sampai 10 persen dari seluruh penduduk, bahkan angka inipun masih diragukan kemudian. Diakuinya pula bahwa untuk sementara waktu orang dapat jatuh kembali pada tahap moral yang lebih rendah, yang disebut sebagai “regresi fungsional”. Nah, dimana tingkatan moral anda? (jp)

Menggali Kearifan Menghalau Kerakusan

Haedar Nashir


Ambon aman dan kondusif. Warga di seribu pulau itu kini mulai menapaki hari esok yang lebih damai. Banyak hikmah yang diambil dari pengalaman pahit lima tahun konflik penuh pertaruhan. Cukuplah sekali itu, lalu generasi baru meretas hidup rukun untuk kelangsungan masa depan. Kini, tinggal membuang puing-puing lama yang berserakan. Semoga tak ada lagi rintangan dan pemicu yang menyulut bara. Warga Maluku tak akan terpengaruh.

Demikian rekaman penulis dari saudara-saudara kita di Ambon, ketika dua hari yang lalu mengunjungi ibu kota Maluku itu. Mungkin terlalu menyederhanakan kesimpulan, dan hanya selintas. Tetapi itulah getaran yang kini tumbuh di kepulauan yang dikenal indah itu. Orang boleh berdebat soal detail kondisi Maluku saat ini. Siapa pun berhak untuk harap-harap cemas sekaligus optimis akan masa depan kehidupan di pulau berbukit-bukit dan berteluk indah itu.

Para ahli boleh berdiskusi panjang soal sebab-musabab konflik yang tragis di provinsi bergugusan pulau itu. Berbagai solusi juga bisa ditawarkan untuk meretas nasib masyarakat Ambon dan kepulauan Maluku yang lebih baik. Namun, ketika masyarakat setempat memiliki semangat dan harapan untuk keluar dari kemelut dan meretas hidup baru yang lebih damai dan berkemajuan, maka tak akan pernah ada kekuatan apa pun yang membendungnya. Itulah yang bernama kearifan lokal atau kearifan budaya.

Kearifan budaya adalah energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup di atas nilai-nilai yang membawa kelangsungan hidup yang berkeadaban. Hidup damai. Hidup rukun. Hidup bermoral. Hidup saling asih, asah, dan asuh. Hidup dalam keragaman. Hidup penuh maaf dan pengertian. Hidup toleran dan jembar hati. Hidup harmoni dengan lingkungan. Hidup dengan orientasi nilai-nilai yang membawa pada pencerahan. Hidup untuk menyelesaikan persoalan-persoalan berdasarkan mozaik nalar kolektif sendiri. Kearifan seperti itu tumbuh dari dalam lubuk hati masyarakat sendiri. Itulah bagian terdalam dari kearifan kultur lokal.

Kita dapat belajar dari Ambon. Dari Sampit, Poso, Aceh, Papua, dan daerah-daerah yang terkena musibah konflik di negeri ini. Bahwa di luar pendekatan-pendekatan yang bercorak strukturalis, sesungguhnya kita dapat menggali mozaik kehidupan masyarakat setempat yang bernama kearifan kolektif atau kearifan budaya. Di setiap masyarakat mana pun kearifan semacam itu tertanam dalam di relung sistem pengetahuan kolektif mereka yang dialami bersama. Itulah yang sering disebut sebagai local-wisdom. Para ahli juga sering menamakan local-knowledge, pengetahuan setempat yang berkearifan. Pela-gandong di Maluku misalnya, merupakan contoh dari kearifan budaya lokal itu.

Boleh jadi kearifan lokal di banyak penjuru negeri ini telah lama tercerabut oleh dahsyatnya hegemoni budaya seragamisme yang ditanamkan oleh rezim Orde Baru, yang mematikan keragaman. Oleh budaya birokratisme, yang menancapkan dominasi kaum birokrat untuk meruntuhkan otoritas karisma tokoh setempat. Oleh budaya militerisasi yang serba monolit, yang melumpuhkan ruang-ruang kreasi kewargaan. Oleh kebiasaan rezim untuk memaksakan penyelesaian masalah dari atas secara paksa, yang melindas kemampuan-kemampuan kolektif warga secara mandiri.

Oleh politik adu-domba untuk meraih wibawa kuasa, yang mengorbankan solidaritas anak-anak bangsa. Oleh pragmatisme kekuasaan, yang selalu mengambil jalan menerabas dalam menyelesaikan masalah, seraya melupakan proses sosial yang lebih awet meskipun lambat. Oleh ekonomisasi yang mendewakan materi, sambil membunuh nilai-nilai luhur yang selama ini mekar dalam nurani masyarakat.

Kini, bangsa ini perlu belajar untuk menggali kearifan yang boleh jadi juga telah lama hilang dari negeri ini. Ketika bangsa ini tetap terseok-seok dalam gelombang krisis multi wajah, padahal telah tiga kali ganti rezim pemerintahan di era reformasi, maka perlu sekali mencoba menggali mozaik kearifan. Seluruh anak-bangsa berkewajiban untuk membangkitkan energi baru kearifan, ketika tanda-tanda kerakusan mulai tampak merasuk ke banyak ruang publik. Kerakusan akan materi dan jabatan kekuasaan merupakan fenomena yang paling menonjol di negeri ini, yang diperagakan terutama oleh para elite di banyak lingkungan, yang pelan tapi pasti atau bahkan secara drastis telah mematikan energi kearifan.

Menjelang 2004 bahkan muncul gejala kerakusan baru. Yakni pada ingin jadi presiden. Tak di dalam partai, yang memang demikian adanya, bahkan dari luar gelanggang partai pun bertumbuhan tokoh-tokoh yang siap jadi presiden. Kalau tidak terang-terangan tampil di ruang publik, diam-diam bersafari ke sana ke mari untuk membuka pasar-politik. Rupanya politisi kini bukan hanya di dalam partai, di luar pun berseliweran politisi non-partai. Mereka sama-sama siap menjadi presiden atau menjadikan seseorang menjadi presiden.

Padahal persoalan menjadi presiden bukan sekadar siap atau tidak siap, tetapi yang paling bermakna adalah soal amanat dan kemampuan. Amanat akan membuat sang presiden dapat merawat seluruh beban yang diberikan rakyat kepadanya secara jujur dan bertanggungjawab. Sedangkan kemampuan akan membuat dirinya mampu mengemban amanat itu sebagaimana mestinya. Amanat saja tidak cukup, sebagaimana kemampuan saja tidaklah memadai, kedua-duanya harus berpadu dalam diri pemimpin bangsa. Hal yang paling merepotkan sekaligus membahayakan ketika dua-duanya tak dimiliki, tiada amanat, tiada pula kemampuan.

Ketika amanat sirna dari nurani pemimpin, maka dia akan membiarkan penyelewengan menjalar ke segenap relung pemerintahan dan ruang publik, bahkan besar kemungkinan dirinya pun terlibat dalam penyelewengan itu. Korupsi, kolusi, nepotisme, jual beli hukum, pengurasan harta negara, penjualan aset-aset negeri, eksploitasi sumberdaya alam, menelantarkan nasib rakyat, kemewahan, dan seribu satu perusakan dan penyimpangan akan dibiarkan mekar bahkan semakin dimekarkan. Bahkan kursi kekuasaan pun akan terus dipertahankan dengan sejuta cara yang haram dan subhat sekalipun. Sudah merasa tak amanat, masih juga ingin berkuasa dan meraih kuasa baru.

Ketika kerakusan kuasa dan materi begitu dominan, maka soal amanat dan kemampuan menjadi hal kecil dalam ruang kepala dan batin para elite di negeri ini. Apalah amanat dan kemampuan, yang penting dapat meraih kuasa, yang penting dapat meraup materi. Itulah watak kerakusan, yang tak membiarkan suara nurani mekar, karena dikalahkan oleh luapan nafsu duniawi. Nafsu kuasa dan harta. Kedudukan sekadar jadi batu loncatan dari ambisi-ambisi bawah sadar dirinya yang tumpah ruah ke segala arah. Sehingga jadilah para elite berebut harta dan kuasa, harta untuk meraih kuasa dan kuasa untuk menambah harta dan akumulasi kuasa berikutnya.

Jika kaum elite di negeri ini mengerti derita anak-anak bangsa di Aceh, Ambon, Poso, Papua, dan di seluruh wilayah Nusantara yang didera krisis berkepanjangan, boleh jadi semakin sedikit yang bersiap diri menjadi presiden dan jabatan-jabatan publik di pemerintahan. Mereka tentu miris, cemas, dan hilang nyali untuk menjadi pemimpin negeri. Betapa berat amanat dan kemampuan yang harus dikerahkan. Betapa banyak hal yang harus dipertaruhkan, sampai nyawa pun dapat menjadi barang tebusan. Bukan malah bernafsu dan berpesta pora untuk dapat meraih kedudukan yang penuh pertaruhan itu.

Kita berharap, semoga kearifan masih tersisa dalam relung hati dan pikiran para elite bangsa di negeri ini, agar nafsu kerakusan tak merajalela. Jika masih pada berkeinginan untuk menjadi presiden dan meraih jabatan-jabatan publik, bertanyalah pada nurani sendiri dan nurani rakyat. Untuk dan atas nama apa kekuasaan itu ingin diraih? Bagaimana dan kenapa harus diraih? Mau berbuat apa setelah meraihnya? Bagaimana kalau tak mampu memikulnya setelah kuasa itu diraih? Mengapa begitu menyala-nyala semangat untuk meraih kuasa? Akankah membawa maslahat atau sebaliknya mafsadat untuk bangsa? Dan berbagai pertanyaan yang memerlukan kejernihan hati dan pikiran untuk mencandranya. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang bernuansa kearifan, yang perlu dicandra oleh siapapun yang menjadi dan ingin menjadi pemimpin bangsa.
Semoga para elite di negeri ini mau berlomba-lomba meraih kearifan, lebih dari sekadar nafsu meraih kuasa. Sumber kearifan itu bertebaran di mana-mana. Raihlah ilmu dan hikmah, demikian titah Allah dalam banyak ayat Alquran, agar manusia meraih kearifan hidup. Sayangnya, kearifan sering menjadi barang yang mudah hilang, ketika kerakusan merajalela dan serba dipuja!


Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Pada Remaja 

 , Oleh: Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi.


  , Jakarta, 25 Juni 2002


 , Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring dengan berlalunya waktu dan perkembangan selanjutnya, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari ketergantungannya pada orangtua atau orang lain di sekitarnya dan belajar untuk mandiri. Hal ini merupakan suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Mandiri atau sering juga disebut berdiri diatas kaki sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik.


  , Selama masa remaja, tuntutan terhadap kemandirian ini sangat besar dan jika tidak direspon secara tepat bisa saja menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan psikologis sang remaja di masa mendatang. Ditengah berbagai gejolak perubahan yang terjadi di masa kini, betapa banyak remaja yang mengalami kekecewaan dan rasa frustrasi mendalam terhadap orangtua karena tidak kunjung mendapatkan apa yang dinamakan kemandirian. Ruang konseling di website ini banyak dipenuhi oleh kebingungan-kebingungan dan keluh kesah yang dialami remaja karena banyak sekali aspek kehidupan mereka yang masih diatur oleh orangtua, meski banyak diantara mereka yang sudah berusia lebih dari 17 tahun. Salah satu contohnya adalah dalam hal pemilihan jurusan/fakultas ketika masuk sekolah/Perguruan Tinggi. Dalam hal ini masih banyak ditemui orangtua yang sangat ngotot untuk memasukkan putra/putrinya ke jurusan yang mereka kehendaki meskipun anaknya sama sekali tidak berminat untuk masuk ke jurusan tersebut. Akibatnya remaja tersebut tidak memiliki motivasi belajar, berkehilangan gairah untuk sekolah dan tidak jarang justru berakhir dengan Drop Out dari sekolah tersebut.


  , Mencermati kenyataan tersebut, peran orangtua sangatlah besar dalam proses pembentukan kemandirian seorang.  Orangtua diharapkan dapat memberikan kesempatan pada anak agar dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dengan  demikian anak akan dapat mengalami perubahan dari keadaan yang sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi mandiri. 


  , Kemandirian


  , Kemandirian, menurut Sutari Imam Barnadib (1982), meliputi "perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain”. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali (1987) yang mengatakan bahwa kemandirian adalah “hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri sendiri”. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian: 


·           , Suatu keadaan dimana seseorang yang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya,


·         Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi,


·         Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya, 


·         Bertanggungjawab tetrhadap apa yang dilakukannya


  , Robert Havighurst (1972) menambahkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu:


·           , Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang tua.


·         Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua.


·         Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.



  • Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.


  , Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandiriannya seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang dengan lebih mantap.


  , Untuk dapat mandiri seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan di sekitarnya, agar dapat mencapai otonomi atas diri sendiri. Pada saat ini peran orang tua dan respon dari lingkungan sangat diperlukan bagi anak sebagai ”penguat” untuk setiap perilaku yang telah dilakukannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Reber (1985) bahwa : “ kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana seseorang secara relatif bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain”. Dengan otonomi tersebut seorang remaja diharapkan akan lebih bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.


  , Proses Perkembangan Kemandirian


  , Kemandirian, seperti halnya kondisi psikologis yang lain, dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini. Latihan tersebut dapat berupa pemberian tugas-tugas tanpa bantuan, dan tentu saja tugas-tugas tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.


  , Mengingat kemandirian akan banyak memberikan dampak yang positif bagi perkembangan individu, maka sebaiknya kemandirian diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai kemampuannya. Seperti telah diakui segala sesuatu yang dapat diusahakan sejakdini akan dapat dihayati dan akan semakin berkembang menuju kesempurnaan. Latihan kemandirian yang diberikan kepada anak harus disesuaikan dengan usia anak. Contoh: Untuk anak-anak usia 3 - 4 tahun, latihan kemandirian dapat berupa membiarkan anak memasang kaos kaki dan sepatu sendiri, membereskan mainan setiap kali selesai bermain, dll. Sementara untuk anak remaja berikan kebebasan misalnya dalam memilih jurusan atau bidang studi yang diminatinya, atau memberikan kesempatan pada remaja untuk memutuskan sendiri jam berapa ia harus sudah pulang ke rumah jika remaja tersebut keluar malam bersama temannya (tentu saja orangtua perlu mendengarkan argumentasi yang disampaikan sang remaja tersebut sehubungan dengan keputusannya). Dengan memberikan latihan-latihan tersebut (tentu saja harus ada unsur pengawasan dari orangtua untuk memastikan bahwa latihan tersebut benar-benar efektif), diharapkan dengan bertambahnya usia akan bertambah pula kemampuan anak untuk berfikir  secara objektif, tidak mudah dipengaruhi, berani mengambil keputusan sendiri, tumbuh rasa percaya diri, tidak tergantung kepada orang lain dan dengan demikian kemandirian akan berkembang dengan baik.


  , Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Remaja


  , Memperoleh kebebasan (mandiri) merupakan suatu tugas bagi remaja. Dengan kemandirian tersebut berarti remaja harus belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya. Dengan demikian remaja akan berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungan pada orangtua atau orang dewasa lainnya dalam banyak hal. Pendapat ini diperkuat oleh pendapat para  ahli perkembangan yang menyatakan: "Berbeda dengan kemandirian pada masa anak-anak yang lebih bersifat motorik, seperti berusaha makan sendiri, mandi dan berpakaian sendiri, pada masa remaja kemandirian tersebut lebih bersifat psikologis, seperti membuat  keputusan sendiri dan kebebasan berperilaku sesuai dengan keinginannya".


  , Dalam pencarian identitas diri, remaja cenderung untuk melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan psikis orangtuanya. Remaja mendambakan untuk diperlakukan dan dihargai sebagai orang dewasa. Hal ini dikemukan Erikson(dalam Hurlock,1992) yang menamakan proses tersebut sebagai “proses mencari identitas ego”, atau pencarian diri sendiri. Dalam proses ini remaja ingin mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan, disamping ingin tahu tentang dirinya sendiri.


  , Kemandirian seorang remaja diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi antara remaja dan teman sebaya. Hurlock (1991) mengatakan bahwa melalui hubungan dengan teman sebaya, remaja  belajar berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima (bahkan dapat juga menolak) pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima di dalam kelompoknya. Kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan angota keluarganya. Ini dilakukan  remaja dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok teman sebayanya sehingga tercipta rasa aman. Penerimaan dari kelompok teman sebaya ini merupakan hal yang sangat penting, karena remaja membutuhkan adanya penerimaan dan keyakinan untuk dapat diterima oleh kelompoknya. 


  , Dalam mencapai keinginannya untuk mandiri sering kali remaja mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan oleh masih adanya kebutuhan untuk tetap tergantung pada orang lain. Dalam contoh yang disebutkan diatas, remaja mengalami dilema yang sangat  besar antara mengikuti kehendak orangtua atau mengikuti keinginannya sendiri. Jika ia mengikuti kehendak orangtua maka dari segi ekonomi (biaya sekolah) remaja akan terjamin karena orangtua pasti akan membantu sepenuhnya, sebaliknya jika ia tidak mengikuti kemauan orangtua bisa jadi orangtuanya tidak mau membiayai sekolahnya. Situasi yang demikian ini sering dikenal sebagai keadaan yang ambivalensi dan dalam hal ini akan menimbulkan konflik pada diri sendiri remaja. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri, sehingga sering menimbulkan hambatan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Bahkan dalam beberapa kasus tidak jarang remaja menjadi frustrasi dan memendam kemarahan yang mendalam kepada orangtuanya atau orang lain di sekitarnya.Frustrasi dan kemarahan tersebut seringkali diungkapkan dengan perilaku-perilaku yang tidak simpatik terhadap orangtua maupun orang lain dan dapat membahayakan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan remaja tersebut karena akan menghambat tercapainya kedewasaan dan kematangan kehidupan psikologisnya. Oleh karena itu, pemahaman orangtua terhadap kebutuhan psikologis remaja untuk mandiri sangat diperlukan dalam upaya mendapatkan titik tengah penyelesaian konflik-konflik yang dihadapi remaja.


  , Bagaimana Orangtua Menyikapi


  , Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam keluarga, orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian amatlah krusial. Meski dunia pendidikan (sekolah) juga turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri. 


  , Bagaimana orangtua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian seorang remaja, berikut ini terdapat beberapa saran yang layak Bapak/Ibu pertimbangkan: 


1.        , Komunikasi. Berkomunikasi dengan anak merupakan suatu cara yang paling efektif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja komunikasi disii harus bersifat dua arah, artinya kedua belah pihak harus mau saling mendengarkan pandangan satu dengan yang lain. Dengan melakukan komunikasi orangtua dapat mengetahui pandangan-pandangan dan kerangka berpikir anaknya, dan sebaliknya anak-anak juga dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Kebingungan seperti yang disebutkan diatas mungkin tidak perlu terjadi jika ada komunikasi antara remaja dengan orangtuanya. Komunikasi disini tidak berarti harus dilakukan secara formal, tetapi bisa saja dilakukan sambil makan bersama atau selagi berlibur sekeluarga.


2.      Kesempatan. Orangtua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak remajanya untuk membuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Biarkan remaja tersebut mengusahakan sendiri apa yang diperlukannya dan biarkan juga ia mengatasi sendiri berbagai masalah yang muncul. Dalam hal ini orangtua hanya bertindak sebagai pengamat dan hanya boleh melakukan intervensi jika tindakan sang remaja dianggap dapat membahayakan dirinya dan orang lain.


3.      Tanggungjawab.Bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci untuk menuju kemandirian. Dengan berani bertanggungjawab (betapapun sakitnya) remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang memberikan dampak-dampak negatif (tidak menyenangkan) bagi dirinya. Dalam banyak kasus masih banyak orangtua yang tidak menyadari hal ini. Sebagai contoh: dalam kasus remaja yang ditahan oleh pihak berwajib karena terlibat tawuran, tidak jarang dijumpai justru orangtua lah yang berjuang keras dengan segala cara untuk membebaskan anaknya dari tahanan, sehingga anak tidak pernah memproleh kesempatan untuk bertanggungjawab atas perilaku yang diperbuatnya (bahkan tidak sempat melewati pemeriksaan intensif pihak berwajib). Pada kondisi demikian maka remaja tentu saja tidak takut untuk berbuat salah, sebab ia tahu orangtuanya pasti akan menebus kesalahannya. Kalau begini terus, kapan dong anak bisa bertanggungjawab atas segala perbuatannya dan mampu mandiri? 


4.      Konsistensi. Konsistensi orangtua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai kepada remaja dan sejak masa kanak-kanak di dalam keluarga akan menjadi panutan bagi remaja untuk dapat mengembangkan kemandirian dan berpikir secara dewasa. Orangtua yang konsisten akan memudahkan remaja dalam membuat rencana hidupnya sendiri dan dapat memilih berbagai alternatif karena segala sesuatu sudah dapat diramalkan olehnya.


  , Mungkin masih terdapat banyak cara lain yang patut dipertimbangkan dalam meningkatkan kemandirian sang remaja agar menjadi pribadi yang utuh dan dewasa. Satu hal yang perlu kita ingat adalah: "Jika kita dapat mengasuh dan membimbing anak untuk bisa mandiri melalui keluarga, mengapa kita tidak melakukan berbagai upaya untuk mewujudkannya mulai dari sekarang". Negara ini sudah penuh dengan berbagai ketergantungan pada pihak lain, maka jangan lagi kita membangun generasi baru yang juga penuh dengan ketergantungan dan menjadi beban keluarga. Semoga. (jp)

Kerjalah Lebih Cerdas, Bahkan Saat Marah

Marah-marah dalam kerja adalah sikap sangat jelek, benar? Ternyata salah. Soalnya, seluruh reaksi emosi itu pada saranya baik, bahkan marah-marah sekalipun. Demikian dikatakan psikolog yang juga penulis buku Emotional Intellegence at Work, Hendrie Weisinger.

Psikolog yang juga darikonsulta beberapa perusahaan terkenal seperti, IBM, General Electric serta Bayer tersebut menyatakan, “ Apa yang didapat dari seseorang sat marah-marah, ialah bagaimana dia mengatur kemarahannya,” tambahnya. Soalnya, lanjut dia, “Marah pada dasarnya merupakan rekasiyang sangat baik, karena bisa mengembangkan informasi.” Namun dia tidak memberi petunjuk lebih spesifik, bagaimana marah yang baik itu.

Emotional Intelligence (EI) merupakan kemampuan yang sudah ada, yang bisa bekerja bila anda memang menggunakannya. Menggunakan EI dalam setiap perkerjaan, dipastikan anda akan sukses dalam bekerja, karena selama ini banyak manager atau CEO sukses juga menggunakan kita EI ini dalam kerjanya.

IE sendiri, merupakan perpadauan emosi, perasaan, serta mood (yang anda miliki serta orang lain miliki) merupakan sumber data yang bisa membantu anda untuk mempertimbangan saat mengambil keputusan lebih baik. Berbeda dengan IQ, EI bisa berkembangan sangat cepat. Bila anda bisa mengambangkan EI lebih pas, maka kemampuan anda juga bakal berkembangan cepat.

“Sekali anda bisa mencapaikeputusan terbaik dengan IE, maka kemampaun IE adan juga akanmenjadi bagian terpenting dalam mengambil setiap keputusan,” tambah Weisinger, yang juga menulis tentang The Power of Positive Criticism (Amacom) and Anger at Work.

Weisinger yang juga jadi dosen di The Wharton School of Business serta NYU's Stern School of Business bahkan mengatakan apa yang dicapai pendiri Microsoft seperti sekarang lebih banyak karena faktor EI. "Bil Gates memang brilian. Namun, apa yang dilakukan sekarang ialag mengembangkan Emotional Intelligence, soal seluruh kemampuan bisnis serta pengatahuannya telah ditur oleh banyak orang,” tambahnya.

Sementara psikolog Jack Mayer dari University of New Hampshire serta Peter Salovey dari Yale pertama kali mengenalkan konsep EI ino pada 1990. Kemudian kata-kata ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman melalui bukunya Emotional Intelligence pada 1995.

Emotional Intelligence terdiri dari empat elemen:

· Kesadaran Diri: Menggunakan seluruh perasaan sama baiknya dengan yang dimiliki kebanyakan orang. Seperti kata Weisinger, "Anda tidak akan bisa menggunakan emosi itu kecuali Anda sudahpercaya diri.” Kata
· Empati: Gunakan perasaaan anda sebagai fasilitas pikiran anda, serta untuk mengerti tentang orang lain lebih efektif.
· Mengertilah tentang kandungan informasi dalam emosi: Marah merupakan isyarattentang adanya sesuatuyang salah. Kegelisahan adalah bukti ketidakpastian. Malu karena komunikasi yang memalukan. Depresi berarti perasanaan minta tolong. Antusian merupakan sikap dari kepuasan.
· Mengelola emosi: Bila kesadaran diri bisa dikatakan sebagai thermometer, maka mengelola emosi merupakan cara untuk mengaturnya. Menurut penjelasan Weisinger, "Dalam kasus marah atau gelisah, Anda bisa menurunkan suhu thermometer itu. Menggunakan motivasi dalam diri sendiri, anda bisa kembali pada posisi yang sebenanrnya. Sebagai contoh, bila misalnya bos anda berteriak-teriak kepada anda, menglola emosi tidak berarti anda hanya duduk diam. Tapi anda juga mempelajari kenapa dia sampai memarahi anda. Kenapa dia marah? Apa yang salah dengan saya? Apa yang salah? Nah barukemudian anda harus mengambill tindakan serta bagaimana mengatasinya. Ini terutama sangat penting bagi wanita untuk mengelola kemarahannya. Dan sepetikata-ata Weisinger, “Marah merupakan kegairahan pria. Bila pria marah dalam kerja, itu macho. Tapi kalau wanta marah, dia malah terkesan “bitchi” atau histeris.”
Jadi sekarang tinggal semuanya ada di tangan anda, bagimana anda mengelola itu semuanya. Yang pasti, marah tidak selamanya berkonotasi jelek.Soalnya, bila anda ingin sukses ternyata boleh-boleh saja untuk sesekali marah-marah


Kiat Sukses Dalam Presentasi

Bagi anda para professional dan pelaku bisnis, melakukan presentasi merupakan suatu kebutuhan. Suatu waktu anda dituntut untuk mempresentasikan gagasan-gagasan 'brilliant' anda dalam suatu makalah. Namun, meski anda sudah cukup pengalaman dan sering melakukan presentasi, tak urung perasaan ‘nervous’ dan grogi kerap menyerang anda. Perasaan tersebut sebenarnya wajar-wajar saja, karena memang setiap orang memiliki rasa cemas jika akan berhadapan dengan orang banyak. Tapi ada kiatnya kok!

Ada beberapa hal serius yang perlu dipersiapkan agar presentasi anda berlangsung sukses. Pertama anda harus memahami bahwa presentasi tidak selalu berupa seminar, workshop dan lokakarya. Namun perlu anda sadari juga bahwa sebenarnya dalam sehari-hari pun anda telah melakukan presentasi seperti penyampaian ide, pembahasan kasus ataupun pembicaraan biasa dengan rekan-rekan dan keluarga anda.

* Siapkan Checklist
Dalam menyampaikan presentasi, anda berperan sebagai ‘sender’ (pengirim informasi). Dan keberhasilan anda dinilai dari kemampuan daya serap penerima informasi (receiver).
Untuk itu, persiapan perlu dilakukan dengan matang. Buatlah ‘presentation checklist’ yang meliputi tujuan presentasi, ide dasar yang akan disampaikan, peserta (audience), strategi menjual ide, rencana alternatif dan kumpulan presentasi.

Susunlah tujuan presentasi sesuai dengan kebutuhan anda. Hal ini perlu diwaspadai secara seksama, karena ini menyangkut penilaian terhadap anda secara personal maupun penilaian terhadap perusahaan atau bisnis anda. Sehingga jika hal ini tidak diperhatikan, sebaik apapun rencana anda, belum pasti presentasi anda mendapatkan nilai positif.

Setelah itu, anda dapat menetapkan ide dasar yang meyakinkan. Perlu anda perhatikan apakah presentasi anda sekedar memberikan informasi atau mengharapkan reaksi langsung dari isi peserta. Perbedaan dua pokok pemikiran ini memerlukan persiapan yang berbeda. Jika anda mengharapkan reaksi langsung, persiapan perlu dilakukan lebih sempurna. Misalnya anda dapat menghindari salah ketik pada makalah, pemakaian data yang tidak up to date, dan terlalu banyak ilustrasi serta gambar yang tidak relevan.

Kemudian, perhatikan dan kenali audience (peserta) anda. Audience yang ‘result oriented’ tentu menginginkan informasi yang nyata, bukan basa-basi. Sehingga untuk menghadapi audience seperti ini jangan terlalu banyak membicarakan hal-hal yang berbau basa-basi, hindari improvisasi dan sensasi bisnis yang berlebihan.

* Percaya Diri
Hal yang tak kalah penting adalah ‘rasa percaya diri’ (self confidence). Rasa percaya diri ini sangat diperlukan dalam melakukan presentasi bisnis. Sehingga sebelum waktu presentasi tiba, tak ada salahnya melakukan ‘latihan bicara’. Mintalah bantuan rekan atau keluarga anda untuk menjadi penilai dan audience anda.

Perhatikan penampilan keseluruhan anda mulai dari busana, body language dan kontak mata (eye contact) dengan peserta. Pastikan ketika berbicara, posisi tubuh anda dalam keadaan tegak. Anda harus menyadari bahwa presentasi yang efektif harus bisa membawa peserta menjadi pendengar yang baik. Karena itu perhatikan volume dan intonasi suara anda. Usahakan suara dan kalimat-kalimat yang anda gunakan terdengar jelas. Sehingga ‘feedback’ yang anda harapkan akan tercapai.

Dengan melakukan hal-hal tersebut (hal lainnya mungkin bisa anda kembangkan sendiri), semoga presentasi anda berlangsung sukses. Jangan lupa berdoa sebelum acara berlangsung.


Lakukan Pertanggungjawaban setiap hari

"Waktu kita sangat terbatas, berarti sangat tak pantas untuk kita hambur-hamburkan. Waktu lebih berharga dari pada harta atau uang. Harta atau uang apabila hilang bisa kita cari kembali, tapi satu menit yang sudah lewat tak bisa kita temukan kembali."


Adasejenis lalat yang dilahirkan diwaktu pagi dan mati di waktu senja, tapi lalat tersebut bersungguh-sungguh hidup, mereka terbang mencari makan, kawin, bertelur dan menyiapkan masa depan ulat-ulat anaknya. Mereka tidak diam, hanya untuk menunggu mati atau sekedar mengharap-harap.


Kita semua mempunyai waktu Bruto setiap hari dua puluh empat jam, tapi berapa jamkah setiap hari yang benar-benar kita manfaatkan ? Sepanjang hidup mestinya kita memperhitungkan berapa banyak waktu Neto yang kita pergunakan dari waktu Bruto yang Allah berikan.


Waktu kita sangat terbatas, berarti sangat tak pantas untuk kita hambur-hamburkan. Waktu lebih berharga dari pada harta atau uang. Harta atau uang apabila hilang bisa kita cari kembali, tapi satu menit yang sudah lewat tak bisa kita temukan kembali.


Hidup terdiri dari hari per hari bukan dari tahun per tahun, karena kita tidak punya kepastian tentang tahun, yang kita punya hanya kepastian hari ini, bahkan hanya sebagian hari yang sedang kita hadapi. Karena itu sesungguhnya laporan tahunan, laporan yang sangat terlambat. Sesungguhnya semakin kecil jangka waktu semakin baik.


Karena setiap minggu kita punya tujuh kesempatan untuk memperbaiki diri, dalam satu bulan kita punya tiga puluh kali kesempatan untuk mawas diri dan meningkatkan kesungguh-sungguhan, dalam satu tahun punya tiga ratus enam puluh kali untuk merenung dan menata ulang semua program.


Tapi laporan pertanggung jawaban lebih baik kita lakukan setiap hari,



H. O. Surahman


Kenali Potensi Diri Anda!

Berikut ini tips untuk mengetahui potensi diri Anda sendiri, coba simak deh:

* Kenali diri sendiri
Coba buat daftar pertanyaan, seperti: apa yang membuat Anda bahagia; apa yang Anda inginkan dalam hidup ini; apa kelebihan dan kekuatan Anda; dan apa saja kelemahan Anda. Kemudian jawablah pertanyaan ini secara jujur dan objektif. Mintalah bantuan keluarga atau sahabat untuk menilai kelemahan dan kekuatan Anda.

* Tentukan tujuan hidup
Tentukan tujuan hidup Anda, baik itu tujuan jangka waktu pendek maupun jangka panjang secara realistis. Realistis maksudnya yang sesuai dengan kemampuan dan kompetensi Anda. Menentukan tujuan yang jauh boleh aja asal diikuti oleh semangat untuk mencapainya.

* Kenali motivasi hidup
Setiap manusia memiliki motivasi tersendiri untuk mencapai tujuan hidupnya. Coba kenali apa motivasi hidup Anda, apa yang bisa melecut semangat Anda untuk menghasilkan karya terbaik, dll. Sehingga Anda memiliki kekuatan dan dukungan moril dari dalam diri untuk menghasilkan yang terbaik.

* Hilangkan negative thinking
Enyahkan pikiran-pikiran negatif yang bisa menghambat langkah Anda mencapai tujuan. Setiap kali Anda menghadapi hambatan, jangan menyalahkan orang lain. Lebih baik coba evaluasi kembali langkah Anda, mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Kemudian melangkahlah kembali jika Anda telah menemukan jalan yang mantap.

* Jangan mengadili diri sendiri
Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam mencapai tujuan Anda, jangan menyesali dan mengadili diri sendiri berlarut-larut. Hal ini hanya akan membuang waktu dan energi. Bangkit dan tataplah masa depan. Jadikan kegagalan sebagai pengalaman dan pelajaran untuk maju.

Ingat, potensi Anda adalah kekuatan terbesar untuk menggapai sukses. So, mulai sekarang ketahuilah dan galilah potensi diri Anda. Semoga sukses..!


Tips Bicara Bijak