Tips Berkata Bijak

16.6.08

Bila Sebuah Buku Demikian Bermutu….

Penulis: Anwar Holid


Tidak hanya lagu, buku pun kadang-kadang dirilis ulang. Tentu para penerbit tidak sekadar ingin bernostalgia atau merindukan kembali masa lalu. Sebab ada sesuatu yang berbeda ketika sebuah buku atau lagu diterbitkan ulang. Yang berbeda itu adalah ruh atau nuansanya. Ruh ketika sesuatu yang lama dimunculkan kembali ialah semacam pertaruhan apakah dia masih memiliki daya hidup atau tidak.


Kita ingin merasakan yang berbeda apabila mendapati hal lama yang pernah demikian mengisi ingatan kembali menyeruak mengisi kekinian. Kita berharap mendapatkan energi baru, penyegaran kembali, dan nuansa baru yang dahulu mungkin luput dari perhatian kita. Perhatikanlah misalnya lagu-lagu yang dirilis ulang itu. Selain menawarkan kenangan, kondisi, dan semangatnya memang berbeda. Sering itu dilakukan setelah mempertimbangan banyak hal.


Hal pertama yang mencolok tentu saja pembawanya (dalam hal ini: penerbit). Harus diakui, yang membawakan kembali lagu lama biasanya mereka yang sangat menyukai lagu itu. Jarang penyanyi asli membawakan kembali lagu itu, meskipun bukannya tidak pernah terjadi. Artinya, dia membawakan kembali sesuatu yang demikian berharga, hingga perlu dipelihara nilainya, dan dipertahankan keindahannya. Semacam penghormatan kepada orang yang menciptakannya. Dalam hal penerbitan, sama halnya. Kerap sebuah buku diterbitkan ulang oleh penerbit lain (biasanya lebih muda), karena mereka demikian terinspirasi oleh buku tersebut.


Yang kedua, penerbitan kembali buku lawas biasanya dipicu oleh kondisi tertentu bahwa buku tersebut relevan dengan keadaan kini, atau mampu menerangkan beberapa persoalan yang dianggap mencuat—buku tersebut memenuhi standar keingintahuan saat itu. Ini menyangkut pertimbangan seberapa penting nilai buku tersebut (di kalangan umum) apabila diterbitkan, akan memenuhi kebutuhan apa saja buku tersebut, dan sebagainya.


Yang ketiga, ialah seberapa besar pasar masa kini akan mampu menyerap buku-buku lawas yang dahulu pernah diterbitkan itu? Tentu saja pertimbangan ekonomi sangat penting dalam menerbitkan kembali sebuah buku, baik yang ketika pertama kali diterbitkan langsung menjadi besrt seller atau yang gagal di pasar. Untuk kasus kedua itu, biasanya penerbit biasanya membuat semacam perbaikan (revisi), apakah melalui penyuntingan kembali naskah dan isinya, memberikan kata pengantar dari narasumber yang layak (prominent) atau sekadar melalui penampilannya (minimal perubahan sampul).


Pertimbangan Lain
Bila sistem percetakan penerbit sudah bagus, mereka juga tidak segan-segan untuk menerapkan sistem print-on-demand di bagian penjualan atau produksinya, yakni kemampuan menyediakan buku-buku sesuai permintaan konsumen (pasar). Di Indonesia, teknologi ini tergolong sangat langka, bahkan mungkin belum mampu dilakukan, sebab masih banyak buku-buku lawas yang belum habis diserap pasar, dan masih berusaha ditawarkan dengan berbagai cara, termasuk dengan rabat setengah harga produksinya! Menurut prakiraan, sistem print-on-demand memungkinkan penerbit masih mampu mendapatkan untung meskipun buku tersebut hanya dipesan satu buah saja oleh pembeli.


Buku-buku yang kerap dilupakan orang kadang-kadang juga mendapat perhatian dari penerbit, hingga kemudian mereka memutuskan menerbitkannya kembali. Seri Penguin Classics atau Bantam Classics adalah contoh buku-buku lama yang diterbitkan karena judul itu sudah sukar ditemukan di pasar. Di Indonesia, penerbitan kembali buku Islam dan Keturunan Arab atau Partai Politik di Pentas Nasional oleh Mizan bisa dianggap sebagai respons positif atas buku klasik yang mulai sukar didapat di pasar—sebab penerbit pertamanya tidak menerbitkan kembali buku itu.


Meskipun pengorbanan harus diberikan dan risiko harus ditempuh oleh penerbit yang mau memunculkan kembali buku lama, kita tentu harus berterima kasih untuk beberapa hal. Pertama ialah penerbitan itu akan mengekalkan ingatan kita bahwa buku-buku itu telah membantu dengan cara yang sangat bermakna tentang cara memahami peradaban dan kebudayaan manusia.


Kedua, sumberdaya buku (naskah) itu kadang-kadang sangat sukar ditemukan. Anda tentu akan sangat bisa merasakan betapa bahagianya seandainya seluruh manuskrip buku Pramudya Ananta Toer, Gadis Pantai, yang lenyap oleh keberingasan rezim Orde Baru, bisa diterbitkan ulang—tidak hanya sebagiannya.


Dalam keadaan yang sangat terdesak, kita selalu baru akan bisa merasakan betapa berartinya sesuatu yang lenyap di dalam diri dan ingatan kita. Sering sebuah buku baru bisa diterbitkan kembali setelah naskah aslinya ditemukan di tumpukan buku-buku bekas yang nyaris hancur. Atau atas pertolongan pembaca yang dengan apik merawat buku tersebut. Bila itu yang terjadi, kita tidak saja berutang pada penulis, penerbit, atau penemu naskah itu. Kita agaknya harus pula berterima kasih kepada Alam yang menjaga manuskrip itu tetap utuh dan diselami makna-maknanya. Mungkin untuk mengabadikan nilai luhur itu pula, sebuah penerbit, Hikmah, berani kembali menerbitkan naskah-naskah lama seperti Surat-surat Al-Ghazali karya Abdul Qayyum.


Jadi sidang pembaca, buku lama belum tentu kehilangan nilainya. Sebab seperti kata pepatah: tidak ada buku lama, yang ada adalah buku yang belum kita baca

Tidak ada komentar:

Tips Bicara Bijak